Perjanjian Hudaibyah

 

 

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada 6 H atau 628M. Hudaibiyah adalah nama sebuah sumur yang berjarak 22 kilometer dari Makkah dan sekarang dikenal dengan nama Syumaisi yang di sana terdapat kebun-kebun Hudaibiyah dan masjid Ar-Ridhwan.

Perjanjian Hudaibiyah pada inti nya merupakan gencatan senjata antara kaum muslimin dan kaum Quraisy. Perjanjian ini awalnya dari keinginan Rasullah untuk berhaji ke Mekah tapi kaum Quraisy curiga, bahwa sebenarnya kaum muslimin datang bukan untuk berhaji melainkan untuk berperang melawan suku Quraisy. Setelah melalui berbagai perundingan akhir nya Rasulullah mengutus Utsman bin Affan. Untuk kembali menegaskan kepada Quraisy sikap dan tujuan kaum muslimin. Utsman bin Affan memasuki Makkah dibawah perlindungan Aban bin Saiid. Lama Utsman tidak kembali, Rasulullah SAW dan para sahabat khawatir Utsman terbunuh. Rasulullah SAW segera memanggil para sehabat untuk melakukan bai’at dibawah pohon samra. Setelah baiat ternyata Utsman bin Affan kembali, semua pun bergembira. Baiat ini disebut baiat Ridhwan. Baiat ini tertulis dalam Al’Quran surat al Fath ayat 18, yang artinya Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin saat mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya.
Berikut adalah isi perjanjian Hudaibiyah :
1. Rasulullah SAW harus pulang pada tahun ini, dan tidak boleh memasuki Makkah kecuali tahun depan bersama orang-orang Muslim. Mereka diberi jangka waktu selama tiga hari berada di Makkah dan hanya boleh membawa yang biasa dibawa musafir, yaitu pedang yang
di sarungkan.
2. Gencatan senjata di antara kedua belah pihak selama 10 tahun.
3. siapa yang ingin bergabung dengan pihak Muhammad dan perjanjiannya, maka dia boleh melakukannya. Dan siapa yang ingin bergabung degan pihak Quraisy dan perjanjiannya, dia boleh melakukannya.
4. Siapapun orang Quraisy yang meminta perlindungan pada kaum MUslim, maka kaum muslim hendaknya mengembalikan kepada pihak Quraisy,
Dan siapa pun dari pihak kaum Muslim yang mendatangi Quraisy melarikan diri darinya, maka dia tidak dikembalikan kepadanya.

Banyak orang bertanya apakah perjanjian hudaibiyah menguntungkan? menurut saya ini menguntungkan karena ini adalah sebuah strategi Rasulallah SAW.
Berkut adalah bukti-bukti perjanjian hudayibiah menguntungkan
bukti 1 kota madinah menjadi tidak ada orang kafir nya
bukti 2 orang-orang muslim di Makkah berdakwah di makkah dan banyak yang masuk islam
bukti 3 kaum Quraisy melanggar perjanjian hudaibiyah dengan mendukung sekutu Makkah untuk menyerang sekutu madinah secara otomatis ini membuat Quraisy melanggar isi perjanjian setelah itu Rasulallah pun melakukan pembebasan kota mekah atau fatthul makkah.

Berikut adalah kutipan dari buku-buku tentang perjanjian Hudaiyibiyah.
Menurut buku Fiqhus Sirah, Menghayati Nilai-Nilai Riwayat Hidup Muhammad Rasulullah SAW karangan Muhammad Al-Ghazaliy terbitan A Ma’arif Bandung. Perjanjian Hudaibiyah menunjukan kenyataan, bahwa niat baik mendatangkan buah manis, sedang niat buruk mendatangkan buah pahit. Belum lama Perjanjian itu berlaku, kaum musyrikin Quraisy sudah mulai merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Mereka menganggap ketentuan-ketentuan yang termaktub di dalam perjanjian itu tidak menguntungkan, sekalipun semuanya itu mereka lah yang menyodorkan sendiri sesuai dengan kesombongan mereka yang terlalu kasar. Kaum muslimin sebaliknya. Mereka gembira menerima hasil toleransi besar yang telah diperlihatkan oleh rasulullah saw dalam menghadapi orang Quraisy menjelang perjanjian Hudaiyibiyah. Mereka menikmati keberkahan dari kebijaksanaan nabi muhammad saw hingga tak henti-henti nya bersyukur. Sejak berlakunya perjanjian Hudaibiyah, dominsi orang Quraisy terhadap semua orang kafir di semenanjung arab mulai patah. Sebagai mana di ketahui, sejak dahulu Quraisy adalah murupakan pemimpin kekuatan kafir dan pemegang panji perlawanan terhadap agama baru, Islam.
Setelah tersiar luas berita tentang perjanjian antara Quraisy dan kaum Muslimin, kegiatan jahat kaum munafik yang bekerja membantu kaum musyrikin Quraisy mulai kendor. Kabilah-kabilah pemeluk paganisme yang bertebaran dipelosok semenanjung arabia juga mulai berantakan dan tidak mentaati pimpinnan Quraisy. Hal ini terutama di sebabkan karena Quraisy selalu menjalankan politik yang menguntungkan kepentingannya sendiri dan hanya memperhatikan urusan perniagaan nya sendiri. Mereka tidak melakukan kegiatan apapun juga untuk memperkokoh kerjasama dengan kabilah-kabilah tersebut, padahal dalam waktu yang bersamaan, kegiatan kaum muslimin di lapangan pendidikan, politik dan militer tambah meluas. Kecuali itu,kaum muslimin juga telah berhasil baik dalam usaha menjinakkan banyak kabilah dan memasukannya dalam agama islam.
Banyak penulis sejarah memandang perjanjian perdamaian Hudaiyibiyah sebagai kemenangan kaum muslimin. Mengenai hal itu Az Zuhri mengatakan sebelum perjanjian hudaiyibiyah, islam tidak pernah memperoleh kemenagan sebesar yang di peroleh dari perjanjian itu. Pada masa sebelum nya, Peperangan terjadi hanya di saat pasukan kedua belah pihak berhadapan. akan tetapi setelah gencatan senjata berlaku dan tidak terjadi peperangan baru, orang-orang dari kedua belah pihak dapat bergaul dengan aman. Selama 2 tahun sejak berlakunya perjanjian Hudaiyibiyah islam memperoleh penganut jauh lebih banyak dari pada yang di peroleh pada masa sebelumnya.
Ibnu Hissyam mengatakkan kenyataan yang membuktikan kebenaran pendapat Az Zuhri ialah, bahwa ketika Rasulullah berangkat ke Hudaiyibiyah beliau hanya diikuti oleh 1400 orang. 2 tahun kemudian, yaitu pada tahun jatuh nya kota Makkah ketangan muslimin, Beliau pergi ke Makkah diikuti 10000 orang.

Menurut buku THE GREAT STORYof MUHAMMAD yang di susun Ahmad hatta dan kawan-kawan, orang Quraisy mendengar tentang baiat Ridhwan. Nyali mereka menciut. Mereka segera mengirim Mukariz, seorang laki-laki yang durhaka. Mukariz adalah orang yang gemar berbuat maksiat dan culas. Dia datang menunggang seekor unta dengan cara yang amat kasar. Mukariz duduk di hadapan Rasulullah saw. Dia mulai bicara. Muhammad apa sebetul nya maksud kedatangan mu? kamu datang hanya iuntuk memerangi kaummu dan menghimpun kekuatan arab untuk memusuhi kami. Kamu telah menghina Tuhan kami, kata Mukariz.Rasulullah saw bertindak tegas. Beliau langsung mengusir orang itu dari hadapannya.
Disaat itulah datang Suhail bin ‘Amr. Rasulullah saw menyambut nya dengan antusias karena berharap kedatangan utusan Quraisy kali ini membawa kemuadahan sesuai nama Suhail yang berati kemudahan. Semoga Allah memudahkan urusan kalian. Sungguh kaum itu benar-benar menginginkan perdamaian sampai mereka mengutus orang ini, hrap rasulullah saw. Orang-orang suku Quraisy telah berpesan kepada Suhail bin ‘Amr datangilah Muhammad dan berdamailah dengannya. Namun, dalam perdamayan itu, dia harus mencabut keiinginannya untuk ber ziarah ke Makkah tahun ini. Demi Allah orang-orang arab dari suku lainnya tidak berhak menasihati kita, maka selama nya muhammad tidak bisa memasuki Makkah meskipun dengan damai. Setelah Suhail berbicara kepada Rasulollah, perdamayan pun di laksanakan kedua nya menyepakati klausul perjanjian.
Perjanjian ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap keberlangsungan dakwah tokoh Quraisy dengan suka rela masuk islam ‘Amr bin ‘Ash, Khalid bin Walid, dan ‘Utsman bin Thalhah.Mereka datang menumui Rasul dan ketaatan dan mngucapkan dua kalimat syahadat mereka di bai’at Rasulollah saw untuk membela islam. Mereka rela Mengorbankan jiwa raga,kemampuan, dan potensinya. Ketika mereka datang, Rasulullah bersabda, Makkah telah menyerahkan jantung hatinya kepada kita.

Menjelang perjanjian hudaiyibiyah, rasulollah sengaja membuka hubungan dengan Quraisy dengan cara tiap-tiap pihak mengirimkan delegasi mereka,sehingga Rasulollah dan orang kafir Quraisy dapat mendengar informasi yang dibawa setiap delegasi. Cara ini lebih menenangkan kedua belah pihak. Imam Syafi’i dan mayoritas imam lainnya mengatakan bahwa perjanjian damai dengan kaum kafir di perbolehkan dengan syarat tidak boleh lebih dari 10 tahun karena waktu tersebut adalah waktu yang pernah di jalani rasulollah. Imam Abu Hanifah berpendapat boleh mengadakan gencatan senjata selama lebih dari 10 tahun sesuai kebutuhan namun pendapat pertama lebih banyak diterima. Jika ingin memperpanjang masa perjanjian hendaknya memperbarui perjanjian.

Menurut buku muhammad teladanku jilid 10 karangan Eka Wardana penerbit sygma.
Perjanjian hudaiyibiyah ini merupakan perjanjian yang sangat cerdik. Rasulollah datang untuk melakukan umrah dengan berpakaian ihram dan membawa hewan qurban rang Quraisy serba salah jika mereka melakukan serangn suku arab akan mengutuk mereka dan berbalik mendukung islam.
Dalam beberapa tahun setelah perjanjian hudayibiyah orang yang masuk islam lebih banyak dari pada orang yang masuk islam dari sebelumnya

Menurut buku Shahih Sirah Nabawiyah karangan DR Akram Dhiya Al Umuri terbitan pustaka as sunah, setelah perjanjian Hudaibiyah banyak terjadi perstiwa beruntun yang menjadi peristiwa nyata dan hasil yang luar biasa yang dinamakan Allah SWT Fathan Mubina, kemenangan yang nyata. Bagaimana tidak, kaum Quraisy mengakui keberadaan mereka untuk pertama kalinya, dan diperlukan sebagai lawan, setelah sebelumnya digambarkan di depan manusia dengan gambaran yang sangat jelek, yang gemnya didengar dari dalam kota Makkah dan di seluruh semenanjung arabia dan yang pertama kali muncul adalah dari kaum khuza’ah yang bersegera untuk mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin secara terang-terangan, tampa disertai rasa takut kepada kaum Quraisy. Kondisi demikian ini mempunyai akar sejarah yang jauh, permusuhan klasik antara kabilah khuza’ah dan bani Bakr dari Kinanah serta posisi kaum Quraisy yang memihak bani Bakr, mendorongnya untuk membaiat Abdul Muthalib kakek nabi. Inilah perjanjian yang disebutkan oleh Amru bin Salim dalam syairnya ng dipakai oleh Rasulullah SAW sebelum pembebasan kota Makkah, dengan perkataannya “Sumpah bapak kami dan bapakna secara turun menurun”.
Menurut buku ensiklopedia Muhammad Teladanku karangan Eka Wardhana terbitan Sygma. Perjanjian Hudaibiyah ini merupakan perjanjian antara kaum muslimin dan Quraisy memiliki beberapa kesepakatan, di antaranya adalah gencatan senjata : Jika ada muslim yang bergabung dengan Quraisy dipersilahkan dan jika ada Quraisy yang bergabung dengan kaum muslimin, ia harus dikembalikan. Kelihatannya tidak adil bagi kaum muslimin tetapi Rasulullah yang cerdik justru bisa melihat keuntungan dari perjanjian ini yang memang terbukti dalam waktu selanjutnya.
Kesimpulan saya tentang perjanjian Hudaibiyah ini adalah langkah awal dari berkembangnya kaum muslimin di muka bumi. Karena setelah perjanjian Hudaibiyah banyak peristiwa yang membuat bangsa arab menjadi Islam dan kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>